Meneropong gerhana bulan

Kamis, 30-08-2007

 

Pukul 17:51 WIB puncak gerhana bulan total saat memasuki fasa puncak pertama selama sekitar 10 menit hilang tak tampak dari pengamatan mata telanjang hingga agak mengecewakan kalangan khlalayak pengunjung yang sengaja datang mengamatinya dari halaman Observatorium Bosscha ITB di Lembang, kawasan Utara Bandung.

Namun selepas gugusan awan mulai menghilang maka gerhana kemudian mulai dapat diamati mulai dari munculnya rupa bulan sabit hingga seluruh muka bulan menjadi utuh kembali menjadi bulat sepenuhnya pada pukul 20:19 Waktu Indonesia Barat.


Peristiwa pengamatan gerhana bulan total 28 Agustus ternyata menjadi lebih istimewa berhubung gambaran hasil peneropongan di Observatorium Bosscha ITB ternyata disiarkan melalui saluran televisi nasional TVRI keseluruh penjuru tanah air yang terselenggara berkat kerjasama pihak ITB dan TVRI dengan Depkominfo dan Departemen Agama, serta dukungan instalasi siaran lewat satelit pihak Telkom. Di lokasi pengamatan Observatorium Bosscha menugaskan 8 tenaga pengajar Departemen Astronomi termasuk kepala OB Bosscha ITB Dr. Taufik Hidayat yang bertindak selaku ilmuwan ahli Astronomi sekaligus tuan rumah yang menjelaskan fenomena rangkaian peristiwa astronomis kejadian gerhana bulan total yang hanya akan terlihat kembali di wilayah tanah air selang periode 18 tahun. Sementara di Studio TV-RI Jakarta tampil Menkominfo Dr. Muhammad Nuh, Menteri Agama M.Maftuh Basyuni didampingi Dirjen Bimas Islam Departemen Agama.

Terlepas dari keseluruhan proses gerhana bulan total yang menurut pendapat Dr. Taufik Hidayat pemantauannya berlangsung memuaskan berhubung cuaca yang cerah bersahabat, terkandung pula maksud pihak Pemerintah disamping menyebarluaskan penjelasan ilmiah peristiwa gerhana ke seluas mungkin khalayak masyarakat juga berencana mencoba untuk pertama kalinya melakukan siaran langsung proses pengamatan kemunculan hilal —sosok penampakkan bulan saat fasa terawal— guna dapat diambil sebagai ketentuan awal bulan puasa Ramadhan yad tgl 12 & 13 September yad, hingga dapat dijadikan ketentuan yang berlaku serempak di seluruh penjuru Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Seperti berulang kali terjadi umat Islam di Indonesia kerap kali tidak selalu satu kata yang mantap guna menetapkan permulaan awal Ramadhan maupun Hari Raya Ied pada akhir bulan Ramadhan. Landasan dalam Agama Islam dalam metode penetapan awal Ramadhan memang menganut 2 cara, yakni ; hisab yang berdasar atas penghitungan ilmu falak ( =astronomi ) dan metode rukyah yang berdasar atas kesaksian pengamatan terbitnya hilal dengan penglihatan mata. Selama ini metode hisab menurut hitungan ahli falak dari kalangan agamawan di tanah air umumnya hampir selalu sama dengan hitungan kajian ilmiah ilmu astronomi. Kalender dalam Islam adalah sistem lunar yang merujuk atas periode edar bulan.

Peran serta ilmuwan dari Observatorium Bosscha - ITB dalam mengedepankan kajian ilmiah berkenaan dengan penetapan hari-hari besar kalender Islam di tanah air memang bukan yang pertama kali, seperti yang pernah dilakukan oleh Astronom senior Dr. Moedji Raharto pada beberapa tahun silam yang pernah beberapa kali memaparkan presentasi ilmiah terbuka dihadapan publik yang dilakukan di masjid Salman ITB Bandung.
Agaknya untuk kali ini inisiatif gagasan Menkominfo beserta Menteri Agama memang lebih akan istimewa berhubung untuk pertama kalinya rukyah pengamatan munculnya hilal yang disiarkan saluran TVRI secara serempak serta seketika; “real time” untuk dapat dilihat bersama seluruh kalangan masyarakat setanah air. Penelusur Internet pun pada saatnya nanti dapat memperoleh data pengamatan langsung dan seketika dengan mengakses web: bosscha.itb.ac.id
Rencana pengamatan hilal yang dilaksanakan tgl 12 & 13 Sep di 5 lokasi resmi; NAD Aceh, DKI Jakarta, Semarang Jawa Tengah, dan lokasi paling Timur di wilayah Makassar Sulawesi Selatan serta di Bosscha Lembang, Jawa Barat seluruhnya akan diintegrasikan melalui siaran TVRI Pusat Jakarta dengan menampilkan pembahasan ilmiah dan perhitungan para ahli astronomi dari Observatorium Bosscha ITB yang akan turun langsung mengusung peralatan peneropongan canggih menyebar ke 5 lokasi pengamatan. Seperti diniatkan baik-baik dan dijelaskan oleh Menkominfo, keterlibatan sosok kalangan ilmuwan dilengkapi peralatan astronomis yang canggih dalam pengamatan penampakan hilal akan membantu dengan bobot obyektivitas atas proses rukyah yang pada hakekatnya relatif bergantung kepada subyek sang pengamat yang layaknya seorang manusia terkadang tidak luput dari kesilafan pada pengamatan pandangan matanya;

Sumber:

·         IPTEKnet (Setra informasi IPTEK) 

·        Sumber TVRI & info web. / Rizal AK.

 

 

Leave a Reply